kriminal sex

kriminal sex
diadopsi dari sebuah web dan sebagai gambar hiasan

Sabtu, 26 Februari 2011

Gelora Si Tua Bangka

StatCounter - Free Web Tracker and Counter
 

Tuesday, feb 18, 2011


Cinta dan asmara memang tak mengenal batas umur. Kakek usia 65 tahun macam Mbah Demen, pun tak dilarang undang-undang naksir wanita yang pantas jadi cucunya. Cuma hendaknya tahu diri. Jika tak diterima aspirasi arus bawahnya ya jangan main perkaos. Sebab bisa runyam akibatnya, kasihan pak polisi.

Ini kisah klasik penyimpangan asmara. Jika umur sudah kepala 6 macam Mbah Demen, mestinya tahu dirilah. Ingatlah sekarang yang di Atas, jangan urusan yang di bawah melulu. Bukankah pepatah pepitih para orang tua mengatakan: wong urip iku endi parane (orang hidup ke mana tujuannya). Maksudnya, di kehidupan dunia yang singkat ini harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk rumah masa depan. Sebab, jika sudah mati, tak kan didaur ulang lagi oleh Sang Pencipta.

Nah, Mbah Demen dari Desa Bandaran Kecamatan Kedungjajang Kabupaten Lumajang (Jatim) ini agaknya belum menerima pencerahan semacam ini. Dalam usia sudah bau tanah kuburan, masih juga memikirkan soal selangkangan. Jika melihat cewek berbodi mulus, terutama janda, pendulumnya masih kontak sementara mulutnya komat-kamit macam paranormal. Bukan tengan membaca mantera, melainkan menahan air liur yang ngocor bak keran bocor.

Tingkah laku Mbah Demen yang demikian mungkin bisa dimaklumi. Sebagai lelaki normal, sejak ditinggal mati istrinya 5 tahun lalu, dia tak pernah lagi melakukan kegiaan signifikan di malam hari. Di malam yang dingin, di antara cahaya bulan purnama, Mbah Demen hanya glundang-glundung sendirian. Kalau ada kegiatan, paling-paling ura-ura atau nyanyi tembag Jawa. “Bedug tiga, datan arsa guling, padang bulan kekadar neng latar, tenguk-tenguk lungguh dewe (sudah pukul 03 malam belum bisa tidur, duduk duduk sendirian di halaman di antara sinar bulan purnama),” senandung Mbah Demen dengan suara macam ember ketendang.

Ada niat sebetulnya untuk menikah kembali, tapi sudah tidak laku. Masalahnya, di samping anak-anak tidak setuju, si kakek ini memang belum sekelas Pak Domo. Mantan Kopkamtib ini sih lain, biar tua duitnya kan banyak, jadi masih banyak dilirik perempuan. Lha Mbah Demen ini apa? Pensiun tidak punya, sawah tidak seberapa luas. Kerjanya di rumah hanya kongkow-kongkow melulu, sambil nyeteti burung. Prestasi sudah tidak ada, kentut saja yang dibanyakin!

Kentut masih bisa dikurangi, tapi nafsu dan gairah sebagai lelaki? Kuping setiap pagi sudah dikilik-kilik, agar “si jendul” tak lagi demo dan unjuk rasa. Tapi tak juga menolong keadaan. Kalau demo mahasiswa di Senayan sih masih bisa dikendalikan, pakai gas air mata atau peluru sekalian. Tapi kalau “si jendul” ini lain, mbregudul gak ngerti tembung (nekad, tak memahami kata-kata), orang Jawa bilang.

Untungnya Mbah Demen segera memperoleh pelipur lara. Di dekat rumahnya, kini bermukim seorang janda muda, namanya Dumilah, 30. Wajah biasa-biasa saja, status sosial juga tak jauh beda dengannya, jika tak mau disebut pada kerene (sama melaratnya). Apa lagi dia sering main ke rumah Mbah Demen, untuk ngobrol-ngobrol dengan seorang anak perempuan si kakek. Cuma untuk memulai, Mbah Demen selalu kehilangan kata-kata. Kata-kata “tua bangka” selalu membayang di benaknya.

Berminggu-minggu tak bisa mendeklarasikan dan menyalurkan cintanya, Mbah Demen kehilangan kendali. Beberapa hari lalu, pas Dumilah hendak ngobrol-ngobrol dengan anak Mbah Demen, ternyata kecele. Dalam situasi rumah yang sepi ini si kakek genit merasa dapat peluang. Sebelum janda kenyal itu berbalik bakul, langsung disergap, hip. Mau meronta sebetulnya, tapi Mba Demen masih rosa-rosa macam Mbah Maridjan. Maka hanya dalam hitungan detik, kedudukan sudah berhasil 1-0 untuk Dumilah.

Asamara telah tertunaikan, nafsu telah tersalurkan. Tapi selesaikah persoalannya hingga di sini? Tentu saja tidak. Dumilah yang diperkosa kakek tua bangka, merasa terhina dan ternoda. Diantar keluarganya dia mengadu ke Polsek Kedungjajang, dan Mbah Demen pun segera ditangkap. Tapi dalam pemeriksaan, sepertinya si kakek ini pede-pede saja. Saat ditanya petugas, sudah tua begitu kok masih suka daun muda, dia menjawab enteng: sekedar untuk cari anget-anget saja. “Memangnya pernen jahe, Mbah?” sergah pak polisi.

Kayak permen nano-nanolah, Dumilah rasanya memang rame.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar